‘Warning’ NasDem soal Manuver Politik, Jokowi & PDIP Mulai Tak Nyaman?

  • Whatsapp
'Warning' NasDem soal Manuver Politik, Jokowi & PDIP Mulai Tak Nyaman?

Megaluh.com – Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh belakangan gencar melakukan safari politik ke parpol oposisi. Surya Paloh sudah melakukan pertemuan dengan Presiden PKS, Sohibul Iman, pada Rabu (30/10) lalu.

Tak hanya bertemu PKS, Surya Paloh akan melanjutkan safari politiknya ke PAN akhir November ini. Spekulasi mulai beredar jika NasDem mulai bermanuver untuk Pemilu 2024 nanti.

Read More

Pertemuan Surya Paloh dengan PKS ini menuai sindiran dari partai koalisi, terlebih PDIP. Bahkan sindiran datang bukan dari parpol koalisi saja, tapi juga dari Presiden Jokowi.

Jokowi langsung menyindir maksud dan tujuan Surya Paloh bertemu PKS.

Diingatkan Jangan Main Politik Dua Kaki

Ketum Partai NasDem Surya Paloh bertemu dengan Presiden PKS Sohibul Iman pada Rabu (30/10). Kemudian NasDem menjadwalkan akan bertemu PAN. Karena itu, Wasekjen PDIP, Arif Wibowo mengingatkan parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf tidak bermain politik dua kaki.

NasDem sendiri merupakan bagian dari partai pendukung pemerintah yang mengusung Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Sementara, PKS tetap konsisten menjadi oposisi.

“Kami meminta kepada semua partai koalisi untuk taat azas, untuk menjaga sikap dan tindakan yang etis sebagai partai koalisi pemerintahan. Dengan demikian tidak boleh seharusnya politik dua kaki itu dihindari oleh setiap partai koalisi pendukung pemerintah,” kata Arif di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (31/10).

Arif menyebut, kewajiban terpenting parpol koalisi pemerintah adalah menjaga pemerintahan Jokowi-Ma’ruf agar sukses, efektif menjalankan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya untuk lima tahun ke depan.

“Dengan demikian seharusnya sudah tidak ada lagi proses tawar menawar. Namanya komitmen itu ada loyalitas dan kesetiaan,” ucapnya.

NasDem dan PKS Sudah Ambil Ancang-ancang untuk 2024

Ketua DPP PDI Perjuangan Eriko Sotarduga menilai, pertemuan Ketua Umum NasDem Surya Paloh dan Presiden PKS Sohibul Iman merupakan bagian strategi menghadapi Pilpres 2024. PDIP mengatakan, NasDem sudah ambil ancang-ancang.

“Kalau saya secara pribadi menganggap hal ini sebagai hal yang wajar bagian strategi menghadapi 2024. Artinya sekarang sudah ada ancang-ancang sudah ada seperti apa,” kata Eriko di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11).

Jokowi Tanya Paloh Maksud Bertemu Presiden PKS

Bahkan Presiden Jokowi pun menyindir Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang bertemu dengan Presiden PKS Sohibul Iman beberapa waktu lalu. Sindiran Jokowi dilontarkan saat membuka pidato di HUT ke-55 Partai Golkar. Jokowi saat itu menyapa para elite partai koalisi yang hadir di acara tersebut.

Jokowi pun menceritakan sempat bertanya kepada Surya Paloh maksud dari pertemuan itu. Namun, kata Jokowi, Paloh ogah menjawab.

“Tadi di holding saya tanyakan ada apa, tetapi nanti dijawabnya nanti di lain waktu dijawab. Saya berhak bertanya dong karena beliau masih berada di koalisi pemerintah,” kata Jokowi yang disambut tawa para hadirin di di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (6/11).

Jokowi juga menyindir wajah Surya Paloh lebih cerah dari biasanya. Menurut Jokowi, kecerahan itu setelah pertemuan Surya Paloh dengan Sohibul Iman.

“Wajahnya cerah setelah beliau berdua berangkulan, saya tidak tahu maknanya apa, tetapi rangkulannya tidak seperti biasanya, tidak pernah saya dirangkul oleh Bang Surya seerat merangkul Pak Sohibul Iman,” katanya.

Disindir Jokowi, Paloh Sebut Jokowi Humoris

Usai disindir Presiden Jokowi terkait pertemuannya dengan PKS, Ketua Umum Partai NasDem menanggapi santai sindiran presiden. Malahan Paloh menilai hal itu bukan sebuah sindiran, melainkan hanya sekadar gurauan.

“Masak kalian tidak tanggap, Pak Jokowi itu punya sense of humor tinggi, kita tetap gembira menerima respons humoris dari Pak Jokowi,” kata Paloh sambil tertawa kecil kepada awak media di Hotel Sultan Senayan, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Paloh mengaku pertemuannya dengan Presiden PKS Sohibul Iman adalah jalinan komunikasi demokrasi yang tak membedakan kawan dan lawan, koalisi pemerintah atau oposisi.

“Hubungan komunikasi harus kita jaga, dengan semua pihak, tidak membedakan itu kawan yang ada dalam koalisi maupun di luar, semua punya cita-cita besar gimana menjalankan posisi dan peran institusi parpol untuk meringankan beban masyarakat, bukan sebaliknya,” jelas Paloh.[mdk]

Loading...

Related posts

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *