Bukan Diganggu Makhluk Mistis, Ketindihan Disebabkan Kondisi Tubuh Tertentu

  • Whatsapp
Bukan Diganggu Makhluk Mistis, Ketindihan Disebabkan Kondisi Tubuh Tertentu
Megaluh.com – Ketindihan atau yang dikenal dengan sleep paralysis adalah kondisi tidak bisa bergerak saat tidur. Kondisi ini sering kali dikatikan dengan berbagai hal mistik di Indonesia, padahal ada penjelasan secara ilmiahnya. 

Dilansir dari Insider, selama REM Sleep atau kondisi tidur yang ditandai dengan gerakan cepat dan acak dari mata, tubuh Anda menghentikan sebagian besar gerakan otot. Ini disebut REM sleep atonia dan ini dimaksudkan untuk membuat Anda tetap aman saat Anda tidur. 

Read More

“Tubuh melumpuhkan dirinya sendiri selama REM Sleep, jadi kita tidak memerankan mimpi kita dan melukai diri kita sendiri atau pasangan kita di dunia nyara,” kata Nate Watson, MD, co-direktur University of Washington Medicine Sleep Center.

Sementara itu, ketindihan terjadi ketika Anda memasuki antonia tanpa berada dalam REM Sleep. Artinya, pikiran Anda masih sadar namun tubuh telah menghentikan sebagian besar gerakan otot, sehingga sulit digerakkan.

Ketindihan seringkali merupakan hasil dari siklus tidur-bangun yang tidak teratur.

Baca Juga:
Waspada Insomnia Kronis, Gangguan Tidur yang Terjadi Lebih dari 3 Bulan

“Ketindihan dapat terjadi pada dua titik,” kata Patricia Celan, MD, seorang psikiatri di Universitas Dalhousie di Nova Scotia, Kanada.

Kedua titik tersebut adalah ketindihan jenis hipnagogik atau predormital yang terjadi ketika tertidur dan hypnopompic atau postdormital yang terjadi ketika bangun tidur.

Ilustrasi ketindihan saat tidur (Shutterstock).

Melansir dari Insider, ada beberapa kondisi yang memengaruhi risiko seseorang mengalami ketindihan, yakni narkolepsi yang merupakan kondisi memengaruhi pengaturan siklus tidur-bangun yang sering terjadi bersamaan dengan ketindihan. Selain itu orang dengan gangguan tidur sleep apnea juga sering kali mengalami ketindihan. 

Baca Juga:
Lebih Intens dari Mimpi Buruk, Kenali Teror Malam yang Terjadi pada Anak

Faktor lain adalah jadwal tidur yang tidak teratur, orang dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), stres, kelelahan, hingga faktor genetik. 


Sumber: Suara.com

Loading...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *